Penggunaan Data Alternatif untuk Meningkatkan Akurasi Model Credit Scoring bagi Debitur BPRS

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) memiliki peran yang sangat strategis dalam sistem perbankan nasional. BPRS menjadi andalan dalam sistem perbankan nasional dalam menyalurkan pembiayaan kepada usaha kecil dan menengah. Namun, tingkat risiko debitur yang masuk dalam kelompok usaha kecil dan menengah cenderung lebih tinggi dibandingkan debitur korporasi sehingga membuat BPRS memiliki risiko kredit yang tinggi. Dalam jangka panjang, hal tersebut akan menyebabkan instabilitas dalam sistem perbankan nasional. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menekan tingkat risiko kredit adalah dengan cara membuat sistem credit scoring yang akurat dan cocok dengan karakteristik debitur BPRS. Permasalahan utama dari model credit scoring yang ada saat ini adalah masih menggunakan laporan keuangan sebagai sumber informasi utama. Padahal menurut Hyytinen dan Pajarinen (2008), debitur UKM memiliki sifat information opacity karena informasi keuangan yang mereka berikan cenderung tidak reliable sehingga membuat model credit scoring tidak dapat bekerja dengan baik.

Perkembangan terbaru dalam credit scoring mengarah pada penggunaan data alternatif seperti data kualitatif, mobile prepaid, psychometric, social data, dan transaksi e-commerce debitur. Data-data tersebut telah diterapkan di beberapa negara dan diklaim mampu meningkatkan akurasi credit scoring tradisional dan meningkatkan peluang masyarkaat yang unbanked untuk mendapatkan akses kredit dari perbankan. Kajian ini berusaha untuk mengkaji dan mengevaluasi jenis data alternatif yang dapat digunakan dalam konteks BPRS di Indonesia. Selanjutnya, data-data alternatif tersebut akan digunakan untuk menggunakan model credit scoring bagi BPRS sehingga membantu BPRS dalam mengelola risiko kredit secara lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.