Hindari Riba, Sistem Akad BPJS Harus Diubah

[rad_page_section id=’rpsTNNYVUW87JQ1N83JIKQ1SCDQ7QESOOEV’ first=’true’ last=’true’ section_name=’Section’ v_padding=” classes=” visibility=’None’ background_opts=” background_color=” background_image=” background_position=” background_cover=” background_repeat=” background_attachment=” background_gradient_dir=” start_gr=” end_gr=’#eeeeee’ video_url=” border_top_width=’0′ border_top_color=” border_top_type=” border_bottom_width=’0′ border_bottom_color=” border_bottom_type=” ][rad_page_container id=’rpcRN1ETGB4NXDM8BK382SNHJG494BDJ19Q’ layout=’full’ first=’true’ last=’true’ top=’true’ classes=” visibility=’None’ float=’left’ background_opts=” background_color=” background_opacity=” background_image=” background_position=” background_cover=” background_repeat=” background_attachment=” background_gradient_dir=” start_gr=” end_gr=’#eeeeee’ border_top_width=’0′ border_top_color=” border_top_type=” border_bottom_width=’0′ border_bottom_color=” border_bottom_type=” ][rad_page_widget id=’rpwJSSVT6CBM6N51JI7UBVP9BFV3MXAXD3L’ type=’rad_text_widget’ last=’true’ top=’true’ text_title=’ ‘ text_subtitle=’ ‘ rich_key=’text_data’ col_alignment=’justify’ visibility=’none’ delay=” clear_float=’no’ icon=” icon_margin=’5′ icon_alignment=’left’ icon_animation=’none’ title_color=” subtitle_color=” text_color=” title_size=” title_w=” subtitle_size=” subtitle_w=” text_size=” cb_margin=” ct_margin=” tt_margin=” st_margin=” tet_margin=” ]Majelis Ulama Indonesia (MUI)menyatakan penyelenggaraan jaminan sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terkait dengan akad antarpara pihak tidak sesuai dengan prinsip syariah, karena mengandung unsur gharar, maisir dan riba.

Menanggapi hal itu, Pakar Ekonomi Syariah Universitas Indonesia (UI) Banu Muhammad Haidlir mengatakan, ada unsur riba BPJS Kesehatan. Unsur riba itu, dalam hal keterlambatan pembayaran iuran yang kemudian dikenakan denda administratif sebesar dua persen per bulan dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu tiga bulan.

“Itu kan jelas bermasalah secara fiqh, riba namanya,” kata Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI ini, Kamis (30/7/2015).

Makanya, kata Banu, MUI menyatakan penyelenggaraan jaminan sosial oleh
BPJS Kesehatan, terutama yang terkait dengan akad antar para pihak tidak sesuai dengan prinsip syariah, karena mengandung unsur gharar, maisir dan riba.

Ia menilai jika sistem akad tersebut diperbaiki masalah tersebut dapat teratasi.

“MUI enggak menyebut haram tapi tidak sesuai. Nah yang tidak sesuai ya
sebaiknya dibikin sesuai. Diperbaiki akadnya beres. Tapi kan memperbaiki akad enggak sekedar membalik telapak tangan, harus
mengubah aturan dan lainnya,” tegas Banu.

Banu menambahkan denda keterlambatan saat ini dianggap lazim. Namun penetapan denda dan penggabungan pembayaran yang mengandung unsur riba tersebut harus dicarikan solusi agar halal dan aman.

“Tapi penetapan dua persen dan pembayarannya digabungkan dan seterusnya itu yang harus dicari alternatif pola yang halal yang aman dari riba,” jelasnya.

Sebelumnya, MUI mendorong pemerintah untuk membentuk, menyelenggarakan, dan melakukan pelayanan jaminan sosial berdasarkan prinsip syariah dan melakukan pelayanan prima.

Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V ini diselenggarakan di Pondok Pesantren AtTauhidiyah, Cikura, Tegal, Jawa Tengah pada 7-10 Juni 2015.

Pendapat MUI mengenai sistem penyelenggaran BPJS ini ada melalui hasil
Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V tahun 2015 yang menyebut program BPJS termasuk modus transaksional, khususnya BPJS Kesehatan dari perspektif ekonomi Islam dan fiqh mu’amalah.

http://nasional.rimanews.com/peristiwa/read/20150730/226143/Hindari-Riba-Sistem-Akad-BPJS-Harus-Diubah[/rad_page_widget][/rad_page_container][/rad_page_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.